Pencarian
We have 1 guest online
Pengunjung Online
| Memperkaya Uslub (cara) Dakwah |
|
|
|
| Written by topex , Monday, 01 February 2010 23:38 |
Tidak dipungkiri jika dakwah Islam hari ini semakin menemui kesulitan demi kesulitan. Terutama dalam memburu dan merekrut calon kader dakwah. Berbagai cara dilakukan. Kampus pun menjadi ladang untuk memburu kader. Karena disana anda akan menemui ribuan pemuda yang memiliki potensi sekaligus dengan kapasitas intelektual di atas rata-rata. Merekalah orang-orang yang mau diajak berpikir untuk melakukan perubahan.Melihat potensi para calon kader yang luar biasa, maka berbagai uslub dilakukan demi menarik mereka dalam poros dakwah. Bermacam-macam kegiatan ke-Islam-an dilakukan dan dikemas semenarik mungkin. Tujuannya jelas, yaitu untuk membuat para calon kader tertarik dengan Islam, termotivasi untuk mempelajarinya dan mau mendakwahkannya. Uslub yang saya maksud di sini adalah cara dan wasilah (sarana) yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan dakwah. Misalnya, ketika anda ingin mengajak seseorang untuk berdakwah, anda bisa saja membuat diskusi kecil dengannya. Dengan difasilitasi laptop untuk memaparkan materi anda. Atau mengajaknya nonton film bareng kemudian membahas isi film tersebut dari perspektif Islam. Karena point penting yang harus diingat dalam dakwah adalah kita hendak mengubah mafahim (persepsi) seseorang dengan mafahim Islam. Karena sesungguhnya mafahim inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku seseorang. Dia akan menilai segala sesuatu dengan mafahim yang dimiliki. Memberikan keputusan untuk bertindak juga karena mafahim yang dimiliki. Jika mafahimnya telah dilandasi Islam, maka seluruh tingkahlaku dan perbuatannya akan selalu bersandar pada Islam. Sehingga Islam menjadi worldview dalam kehidupannya. Semakin banyak uslub yang digunakan dalam dakwah, maka hasilnya akan semakin mendekati seperti yang diharapkan. Karena persoalan dakwah hanyalah persoalan uslub dalam menyampaikannya. Karena uslub lah yang senantiasa berubah. Ia dinamis dan tidak statis. Sedangkan thariqah (metode) ia tidak pernah berubah sampai kapan pun. Karena thariqah hakikatnya digali dari hukum syara’, yang tidak dibenarkan untuk dirubah. Ia tetap dan konsisten. Jika anda memiliki 1001 macam uslub maka gunakanlah semuanya. Karena anda tidak tahu mana di antara uslub-uslub tersebut yang akan mengantar anda pada tercapainya target dakwah. Anda tidak akan mendapatkan hasil yang berbeda jika uslub yang digunakan sama. Hasil yang berbeda justru akan didapatkan dengan uslub yang berbeda. Karena anda tidak bisa menerapkan uslub yang sama pada kondisi yang berbeda. Terakhir saya menyuguhkan sebuah kisah tentang “Lalat dan Semut” berikut ini: Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya. Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka. Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka. Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”. “Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita” Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”. Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”. Cerita yang begitu menginspirasi. Adakah kita masih menggunakan cara-cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda?. Mengutip perkataan Albert Einstein, “Hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama.” |
| Last Updated on Monday, 01 February 2010 23:43 |
Link BKLDK
- Pernyataan Sikap BKLDK 'Anteklah Yang Menerima Obama, Menerima Obama = Merestui Penjajahan !!!'
- MUI Pusat Mendukung Aksi BKLDK Untuk Tolak Obama
- Revolusi "Hic et Nunc !"
- Menajamkan Mata Hati
- Menjaga Keikhlasan
- Aksi KORDA BKLDK MALANG RAYA “Century Gate: Selamatkan Indonesia dengan Islam, Ganti Rezim – Ganti Sistem”
- Memperkaya Uslub (cara) Dakwah
- Fenomena V-Day
- BKLDK Beri Rapor Merah SBY-Boediono
- DARI IDE PLURALISME KE TREN TEOLOGI GLOBAL
Artikel Terakhir




Tidak dipungkiri jika dakwah Islam hari ini semakin menemui kesulitan demi kesulitan. Terutama dalam memburu dan merekrut calon kader dakwah. Berbagai cara dilakukan. Kampus pun menjadi ladang untuk memburu kader. Karena disana anda akan menemui ribuan pemuda yang memiliki potensi sekaligus dengan kapasitas intelektual di atas rata-rata. Merekalah orang-orang yang mau diajak berpikir untuk melakukan perubahan.