PETAKA KRISIS EKONOMI AS, BUKTI KERAPUHAN KAPITALISME!! | Goresan Pena

Pencarian

We have 1 guest online

Pengunjung Online

Setujukah Anda dengan penerapan Syariat Islam?
 
Hari ini104
Kemarin70
Minggu ini275
Bulan ini932
Semua77692

Statistik pengunjung

PETAKA KRISIS EKONOMI AS, BUKTI KERAPUHAN KAPITALISME!! PDF Print E-mail
Written by topex , Tuesday, 14 October 2008 22:05

Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) pada tanggal 27 September 2008 silam telah ikut mengguncang pasar saham dunia. Krisis yang ditandai dengan bangkrutnya perusahaan sekuritas Lehman Brothers menjadi pertanda ambruknya sistem ekonomi Kapitalis AS. Perusahaan yang telah berusia 158 tahun milik Yahudi ini menyatakan kebangkrutannya hari Selasa 16 September 2008 lalu. Begitu juga dengan kolapsnya beberapa bank dan perusahaan besar lainnya di AS telah menyebabkan keguncangan perekonomian global. Ini kah akhir dari sebuah negara adidaya AS dengan sistem ekonomi neo-liberal nya?
Bangkrutnya Lehman Brothers ini telah menyebabkan meningkatnya angka pengangguran. Perusahaan tersebut telah melakukan pemecatan 5 persen dari 25.000 jumlah total karyawannya yang tersebar dalam jaringan perusahaannya di seluruh dunia atau sekitar 1.500 orang. Fenomena ini menunjukkan bahwa perusahaan finansial sekelas Lehman Brothers juga menyimpan kelemahan yang berujung pada ambruknya perusahaan tersebut. Mengutip pernyataan kepala ekonom di The Saudi British Bank (SBB), John Sfakianakis yang mengatakan bahwa “krisis perbankan yang terjadi di AS menunjukkan bahwa tak ada satu pun institusi finansial yang sempurna dan AS perlu segera memperbaiki regulasinya.”
Sebelum Lehman, sejumah perusahaan di AS juga sudah melakukan pemangkasan karyawan. Misalnya perusahaan penerbitan koran Gannett Co. Inc. menyatakan akan merumahkan 600 karyawannya dan Ford Motor Co. akan mengurangi 300 orang karyawannya. Para analis mempekirakan tingkat pengangguran AS sampai pertengahan tahun 2009 akan meningkat dari 5,7 persen menjadi 6,5 persen. Bertambahnya pengangguran berarti bertambahnya beban perekonomian pemerintah.1 
Kolapsnya Lehman Brothers juga diikuti oleh rivalnya Merril Lynch yang harus rela diakuisisi oleh Bank of America. Begitu juga dengan perusahaan sekuritas, penjamin kredit dan sejumlah bank investasi lainnya ikut rontok satu persatu.2 Peristiwa ini telah menyebabkan keguncangan yang luar biasa di lantai bursa Wall Street. Rontoknya Pasar Saham terbesar di dunia tersebut ikut mengguncang pasar saham di beberapa negara lainnya di dunia termasuk Indonesia. Pemerintah AS pun dengan terpaksa harus menalangi perusahaan-perusahaan kapital tersebut dengan mengucurkan dana segar untuk menyelamatkan perekonomiannya. Keputusan Presiden Bush tersebut yang ingin mem-bail out perusahaan-perusahaan keuangan dengan USD 700 miliar ditentang oleh banyak anggota DPR AS. Karena kerugian yang diperkirakan mencapai USD 5 triliun.
Subprime Mortgage dan Praktik Keuangan Kapitalis

Kebangkrutan ekonomi di AS adalah masalah yang dibuat oleh AS sendiri terutama oleh para pelaku bisnisnya di bursa saham Wall street. Bank-bank investasi dan perusahaan sekuritas lainnya telah menciptakan suatu pasar yang penuh resiko yang disebut dengan pasar sub-primer untuk meminjamkan kreditnya. Terutama pada pasar subprime mortgage.
Mortgage merupakan hutang untuk membeli property dimana property tersebut digunakan sebagai jaminan. Misalnya adalah Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Mortgage ini dibagi dua yaitu, prime mortgage dan subprime mortgage. Sederhananya, Prime mortgage biasanya diberikan kepada : peminjam yang memiliki sejarah kredit yang bagus (misal tidak pernah bangkrut, tidak terlambat membayar bill, dll) dan dapat menunjukan kapasitas untuk membayar kembali hutangnya (misal pendapatan besar, rasio dari loan terhadap nilai properti rendah, dll). Sedangkan subprime mortgage diberikan kepada peminjam yang tidak memenuhi ketiga persyaratan tersebut. Subprime mortgage bisa dikatakan mortgage (surat hutang properti) dengan resiko yang lebih tinggi dibandingkan prime mortage.3
Pasar sub-primer telah membuka peluang bagi mereka yang memiliki pendapatan rendah untuk mendapatkan pinjaman terutama kredit perumahan (sub-primer mortgage). 25 % dari penduduk AS adalah mereka yang masuk kategori tersebut, sehingga menciptakan peluang pasar baru. Tentu kredit yang mereka dapatkan diiringi dengan tingkat suku bunga yang tinggi. Padahal kemampuan mereka yang rendah ini tentu sangat berisiko tinggi menyebabkan macetnya kredit. Inilah mengapa banyak bank-bank tradisional menjauhi pasar yang penuh resiko ini.
Peminjaman pada sub-prime mortgage terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, 2005, dan 2006, persentase subprime mortgage adalah 23.8%, 25.5%, dan 22.8% dari total pemberian pinjaman mortgage pertahunnya. Peningkatan ini di awali sejak runtuhnya saham-saham teknologi yang memaksa Bank Sentral untuk menurunkan target suku bunga yang juga berpengaruh pada suku bunga mortgage tersebut. Sehingga para pemberi pinjaman pun mengiming-imingi pasar mereka dengan suku bunga yang rendah pada 2 tahun pertama. Namun suku bunga tersebut di-reset setelah 2 tahun yang tentunya tingkat suku bunga setelah di-reset menjadi lebih tinggi. Maka sudah barang tentu mereka yang berada pada subprimer akan mengalami gagal bayar. Karena mereka yang melakukan pinjaman pada pasar tersebut adalah mereka yang memiliki track record yang relatif buruk dalam membeli rumah. 
Pemberi mortgage (subprime lenders) mengumpulkan sejumlah mortage kemudian dijual kepada bank komersial, dan bank komersial tersebut menjualnya lagi kepada bank investasi. Mortgage ini dikemas menjadi MBS (Mortgage-Backed Securities) yang merupakan aset bagi bank investasi karena pemasukan didapat dari pembayaran bunga mortgage dan pelunasan hutang. MBS ini dikemas lagi dengan sejumlah instrument utang lainnya sehingga menjadi CDOs (Collateratized Debt Obligations). CDOs inilah yang dijual dan beredar di pasar saham, karena sumber pendapatan yang ada pada CDOs ini selain dari MBS sendiri juga dari instrumen hutang lainnya. Nah karena CDOs ini adalah hasil subprime mortgage jadilah ‘penyakit’ gagal bayar subprime mortgage tersebar kemana-mana.
Praktik-praktik keuangan semacam inilah yang menyebabkan krisis kredit macet. Penjualan CDOs, MBS, maupun obligasi dan surat hutang lainnya telah menarik para spekulan untuk bermain pada sektor non riil tersebut. Wall Street dan bursa saham lainnya berubah menjadi arena perjudian. Dengan asumsi lembaga-lembaga tersebut bisa memindahkan resiko mereka kepada lembaga lain yang dianggap mampu. Namun apa yang mereka lakukan hanyalah menumpuk-numpuk sejumlah kertas tak berharga yang akhirnya membawa kerugian yang besar.
Rapuhnya Sistem Ekonomi Kapitalisme

Petaka krisis global yang melanda dunia saat ini merupakan letusan dari gelembung ekonomi (The Bubble Economy) yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalis. Pasar keuangan yang mereka banggakan akhirnya ambruk. Kekuatan pasar keuangan yang mereka gambarkan ternyata hanyalah ilusi. Pola perdagangan spekulatif yang mereka kembangkan telah ikut membesarkan gelembung tersebut. Banyak kalangan yang teriming-imingi bahwa pasar tidak akan jatuh serta modal yang mereka investasikan akan memberi keuntungan yang besar. Dengan inovasi produk sekuritas serta obligasi lainnya yang dibuat ternyata hanya menyebarkan ‘penyakit’ dalam perekonomian.
Sistem ekonomi kapitalisme dibangun dengan monetary based economy (ekonomi berbasis sektor non real). Dalam ekonomi kapitalisme tidak mengutamakan sektor real yang lebih produktif (menghasilkan barang dan jasa). Perdangan spekulatif seperti jual beli saham dan obligasi serta kredit perbankan lebih dominan dalam sistem ini. Sudah barang tentu praktik ribawi semacam ini tidak dapat dipisahkan dari ekonomi kapitalisme. Itulah sebabnya sistem ekonomi kapitalisme saat ini begitu rapuh dan rentan terjadinya krisis. Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh The Morgan Stanley yang dikutip David Ignatius (Washington Post, 15/11/2002), pada tahun 2001 dan 2002 jumlah obligasi yang default (gagal bayar) sebesar Rp 1.650 triliun. Jumlah ini lebih besar daripada jumlah obligasi yang default selama 20 tahun sebelumnya jika seluruhnya diakumulasikan. Kompas (16/01/2003) memberitakan, US$ 277 miliar obligasi di Amerika tidak bisa dibayar. Ini baru dari aspek surat berharga obligasi yang berbasis bunga (interest based) (Harahap, 2003).4

Namun, berbeda dengan sistem Ekonomi Islam yang tidak mengenal sektor non real dalam perekonomiannya. Islam bertumpu pada sektor real yang jelas-jelas menghasilkan barang dan jasa. Hal ini juga memastikan bahwa dalam ekonomi Islam, harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja sebagaimana halnya dalam sistem ekonomi kapitalis. Investasi para pelaku keuangan pada ekonomi kapitalis hanya memungkinkan harta beredar di kalang mereka saja, dengan jual-beli saham, obligasi, dan produk sekuritas lainnya tanpa satu pun yang diinvestasikan ke sektor real. Islam juga melarang uang dijadikan komoditas perdagangan dan praktik ribawi termasuk bunga (QS 2: 275). Uang hanyalah sebagai alat tukar dan bukanlah sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan sebagaimana dalam ekonomi kapitalisme. Sehingga Islam mendorong masyarakat untuk berinvestasi modal hanya pada sektor real bukan pada sektor yang lain.
Walhasil, petaka krisis global dengan ambruknya ekonomi AS dan rontoknya institusi Wall Street menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya Sistem Kapitalisme yang dibanggakan manusia saat ini begitu rapuh. Sudah saatnya kita melirik sistem lainnya yang tentu lebih layak untuk kita terapkan. Maka sistem mana lagi yang layak untuk kita terapkan selain sistem ekonomi Islam yang lahir dari aqidah Islam dan bersumber dari Zat Yang Maha Benar yaitu Allah Swt. Wallahu ‘alam bi ash-shawwab. [Kusnady ArRazi – UB]


Daftar Pustaka:
1www.eramuslim.net/Analisa – Bangkrutnya Lehman Brothers dan Nasib Perekonomian AS/09-10-2008
2www.jurnal-ekonomi.org/Rontoknya Insitusi Wall Street/09-10-2008
3www.jurnal-ekonomi.org/Bagaimana Pandangan Hukum Islam atas Subprime Mortgage/09-10-2008
4www.jurnal-ekonomi.org/Benarkah Krisis dan “Bubble” Ekonomi Bukan Bukti Kerusakan Kapitalisme?/09-10-2008



Last Updated on Wednesday, 15 October 2008 09:25
 
badge