Pencarian
Pengunjung Online
| IHWAL PARA SAHABAT |
|
|
|
| Written by topex , Sunday, 09 November 2008 23:15 |
|
“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah….”(QS. At-Taubah; 101) Rasulullah Saw telah membawa agama ini sebagai petunjuk bagi manusia. Islam telah memuliakan manusia dari keterhinaannya, membawa dan menunjuki mereka kepada cahaya kemuliaan. Inilah yang terjadi pada masyarakat Arab pasca diutusnya Rasul. Mereka mendapatkan kedudukan mulia di sisi Rabb sekalian alam. Rasul telah membimbing mereka dengan cahaya Rabbani. Menjadikan mereka manusia-manusia utama. Bahkan mereka lah generasi terbaik umat ini, dan mereka lah orang-orang yang disebut sebagai sahabat Rasul yang menemani beliau dalam menapaktilasi perjalanan dakwah. Mereka lah generasi yang paling baik pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga ihwal kehidupan mereka senantiasa mendapat perhatian dari umat ini.
Para sahabat adalah mereka yang berjumpa dengan Rasul dalam keadaan beriman dan mengikuti beliau dalam dakwahnya. Menurut bahasa1: Sahabat itu bentuk mashdar yang berarti as-Shuhbah (bersahabat). Dari situ muncul kata as-shahabi, as-shahib, bentuk jamaknya adalah ashhab. Yang banyak digunakan adalah kata as-shahabat, yang berarti ashhab (para sahabat). Sedangkan menurut istilah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar2: “Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi saw. dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beragama Islam.” Adapun kebanyakan ulama ushul berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sahabat adalah3: “orang yang lama bersahabat dengan Nabi Saw. dan banyak duduk bersamanya dengan cara mengikutinya dan mengambil hadits darinya”. Namun ada pendapat lain (dan ini yang lebih tepat) seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali yang mengutip perkataan Sa’id Ibn al-Musayyab, bahwa beliau berkata4: “Sahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang yang pernah bersama-sama Rasulullah Saw selama setahun atau dua tahun, dan pernah turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.” Al-Mazini dalam syarah kitab al-Burhan juga mengatakan hal yang senada5: “Kita tidak begitu saja mengatakan, bahwa sahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan Nabi Saw satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadan-kadang (sesaat), atau berkumpul bersama beliau karena satu kepentingan, setelah itu berpaling, melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan Telah masyhur juga di kalangan umat ini bahwa para sahabat adalah pemimpin para mufassir. Berbagai riwayat tafsir mereka telah dihimpun oleh para ulama mulai dari kalangan Tabi’in, Atba Tabi’in sampai generasi akhir umat ini. Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Qur’an di antaranya adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ubai bin ka’b, Zaid bin Sabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As dan ‘Aisyah. Jumhur ulama sepakat bahwa tafsir bil ma’sur (berdasarkan riwayat) para sahabat berstatus hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah) bila terkait dengan asbabun nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’y. Sedang jika memungkinkan ra’y dari sahabat maka statusnya mauquf (terhenti) pada sahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah. Namun sebagian ulama mewajibkan mengambil tafsir yang mauquf dari sahabat semata-mata karena mereka lah yang memiliki kefasihan bahasa Arab, mengetahui dan menyaksikan langsung ayat Qur’an diturunkan serta mengetahui konteks dan kondisinya. Selain itu juga mereka memiliki daya nalar yang tinggi serta pemahaman yang shahih. Seluruh Sahabat adalah Adil Allah Swt. berfirman: Allah Ta'ala berfirman: Rasul Saw bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri: Dalam riwayat yang lain disebutkan dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwa Rasul Saw bersabda: Dengan beberapa dalil di atas jelaslah bahwa terhadap diri mereka tidak perlu di lakukan al-jarh wa ta’dil (penetapan cacat dan adilnya seseorang). Mereka telah menjadi generasi yang terpercaya dari umat ini. Ibnu Shalah berkata,7 “Sungguh umat ini sepakat untuk menilai adil seluruh sahabat, hatta mereka yang terlibat dalam fitnah sekalipun. Demikian juga para ulama yang muktabar berijma’ yang sama lantaran praduga yang baik terhadap mereka, dan mengingat begitu banyak usaha-usaha terpuji yang telah dilakukan para sahabat. Hal ini seakan-akan Allah telah tentukan adanya ijma’ mengingat kedudukan mereka sebagai perantara syari’at.” Dalil-dalil tersebut tertuju langsung kepada para sahabat. Begitu juga pendapat dari para ulama baik dari kalangan ahli hadits, ahli ushul maupun ahli fiqh menyampaikan pandangan yang sama terhadap para sahabat sebagaimana di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Penutup Catatan Kaki:
|
| Last Updated on Tuesday, 16 December 2008 01:35 |
Link BKLDK
- Pernyataan Sikap BKLDK 'Anteklah Yang Menerima Obama, Menerima Obama = Merestui Penjajahan !!!'
- MUI Pusat Mendukung Aksi BKLDK Untuk Tolak Obama
- Revolusi "Hic et Nunc !"
- Menajamkan Mata Hati
- Menjaga Keikhlasan
- Aksi KORDA BKLDK MALANG RAYA “Century Gate: Selamatkan Indonesia dengan Islam, Ganti Rezim – Ganti Sistem”
- Memperkaya Uslub (cara) Dakwah
- Fenomena V-Day
- BKLDK Beri Rapor Merah SBY-Boediono
- DARI IDE PLURALISME KE TREN TEOLOGI GLOBAL
Artikel Terakhir



