Depan || Halaman Utama

Pencarian

We have 2 guests online

Pengunjung Online

Setujukah Anda dengan penerapan Syariat Islam?
 
Hari ini102
Kemarin105
Minggu ini378
Bulan ini1035
Semua77795

Statistik pengunjung

PEMBOHONGAN MELALUI PENGKULTUSAN FIGUR ADALAH BUKTI KEGAGALAN PARTAI POLITIK



Figur Partai 
Pemilihan legislaif (pileg) yang telah selesai dilaksanakan pada hari kamis, 9 april 2009 telah menghasilkan pemenang, yaitu partai demokrat, kemudian disusul partai golkar sebagai runner up dan PDI P diurutan ketiga. Hasil pemilu 2009 ini tidak terlepas dari para tokoh capres atau petinggi partai pemenang pemilu. 

Daya tarik tokoh masih menjadi faktor utama yang menentukan seberapa besar cakupan pengaruh bisa dicapai oleh partai-partai politik peserta pemilu 9 April 2009. Diferensiasi beberapa partai tidak banyak dipengaruhi oleh perbedaan ideologi dan platform politik, melainkan karakterisitik pemimpin utamanya. Fakta ini cukup jelas terlihat pada Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Hanura, dan dalam kadar tertentu PKB dan PAN. Hanya Partai Golkar yang tidak memiliki satu tokoh yang menjadi pusat pengaruh, melainkan menyebar di antara beberapa tokoh. Sedangkan PPP masih mengalami krisis ketokohan sejak reformasi bergulir di Indonesia, turun suaranya secara drastis, tergelincir ke posisi partai kelas menengah, yang dalam kadar tertentu disebabkan oleh ketiadaan tokoh. Sementara PKS terbukti belum berhasil melahirkan tokohnya sendiri seperti terlihat pada manuver politiknya yang mengusung capres SBY. 
Read more... [PEMBOHONGAN MELALUI PENGKULTUSAN FIGUR ADALAH BUKTI KEGAGALAN PARTAI POLITIK]
 
KEWAJIBAN MENGANGKAT PEMIMPIN DAN PERAN PARTAI POLITIK



Pemilu legislatif telah selesai digelar. Kini tinggal Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Walaupun demikian, beberapa elit politik negeri ini telah dan terus melakukan manuver politiknya untuk membangun koalisi menjelang Pilpres mendatang. Berbagai pertemuan antara elit politik jelas dimaksudkan untuk mencari pasangan Capres dan Cawapres yang akan bertarung di Pilpres mendatang. Persoalan perbedaan platform dan ideologi di antara partai-partai politik (parpol) bukan penghalang untuk membangun koalisi. Bahkan dianggap sudah tidak penting dan tidak relevan lagi.

Menghadirkan seorang pemimpin yang benar-benar memperhatikan urusan rakyatnya menjadi sebuah keniscayaan. Maka tak heran jika banyak yang berharap pada pemilu kali ini dengan cara menggunakan hak suara mereka. Hingga ada yang mengatakan bahwa memilih untuk tidak memilih adalah pilihan yang tidak cerdas dan menunjukkan sikap apatis. Benarkah demikian? Apakah pemilu satu-satunya jalan untuk menghadirkan seorang pemimpin yang adil yang memperhatikan rakyatnya atau adakah jalan lainnya?
Read more... [KEWAJIBAN MENGANGKAT PEMIMPIN DAN PERAN PARTAI POLITIK]
 
RADIASI SISTEM KAPITALISME



Tahun 2009 ini, Indonesia akan menghelat pesta perayaan besar. Perayaan pesta demokrasi. Layaknya seorang yang punya hajat, semakin besar pesta digelar, maka semakin banyak pula undangan yang diharapkan hadir meramaikan pesta. Begitu juga pesta demokrasi yang akan dirayakan Indonesia kali ini. Diharapkan banyak partisipasi dari rakyat untuk membubuhkan contrengannya di atas salah satu gambar atau nama politikus atau nama parpol, dengan harapan besar akan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Boro-boro berpikir Indonesia ke depan lebih baik, berpikir kesejahteraan masing-masing pemilih meningkat sedikit saja, masih ragu. Makanya, pesta yang sudah berkali-kali dihelat untuk mengawali dengan harapan kehidupan yang lebih baik ini, terasa sangat membosankan. Angka golput alias golongan putih, semakin tahun bukannya turun, malah menanjak. Karena harapan tinggal harapan. Kesempitan yang sudah ada, semakin sempit saja. Kemalangan yang datangpun semakin sering. Ketakutan yang merayap, semakin menghantui saja.
Read more... [RADIASI SISTEM KAPITALISME]
 
PEMILU MAHAL, PEMILU GAGAL



9 April 2009, rakyat Indonesia akan mengadakan pemilu Legislatif. Sejak menyelenggarakan pemilu 2004 yang lalu Indonesia mendapat pernghargaan “medali Demokrasi” oleh IAPC (Asosiasi International Konsultan Politik) sebagai penghormatan bagi indonesia. Amerika bahkan memuji sebagai Negara demokrasi terbesar ketiga dunia. Diprediksi dalam kurun waktu 2009-2014, Indonesia akan mengadakan 503 pemilu, itu artinya setiap 4 hari sekali, Indonesia mengadakan pemilihan umum baik tingkat daerah, propinsi, pusat, wakil rakyat dan presidennya. Sangat melelahkan dan pasti tidak sedikit dana yang dikeluarkan. Yang jadi pertanyaan besar kita sekarang, apakah keberhasilan sebagai Negara yang demokratis selalu berkorelasi positif dengan tingkat kesejateraan? Apakah hidup rakyat semakin lebih baik setelah pemilu? 
Mari kita menilai secara kritis, sudah berkali-kali pemilu kita lakukan dan tidak sedikit dana yang dikeluarkan, dan ternyata hidup kita pun tak mengalami perubahan. Dari pengamatan fakta, yang kami amati, ada banyak hal kecacatan pemilu di era demokrasi saat ini. Tapi, kami hanya menuliskan beberapa hal, diantaranya: 
Read more... [PEMILU MAHAL, PEMILU GAGAL]
 

« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 8 of 13
badge